Onboarding yang tidak bergantung pada siapa yang sempat menemani
Minggu pertama karyawan baru biasanya ditentukan oleh siapa yang kebetulan senggang. Cara memindahkannya ke satu jalur yang sama untuk semua orang.
Tanya siapa pun yang pernah masuk kerja di tim kecil: minggu pertamanya diisi menunggu. Menunggu akun dibuat, menunggu seseorang sempat menjelaskan alat kerja, menunggu tahu apa yang boleh dan tidak boleh. Kalau yang menemani kebetulan rapi, onboarding-nya bagus. Kalau yang menemani sedang dikejar tenggat, karyawan baru belajar dari tebakan.
Masalahnya bukan orangnya. Masalahnya, onboarding disimpan di kepala, bukan di satu tempat yang bisa dijalankan siapa saja.
Mulai dari satu minggu, bukan satu tahun
Godaan pertama adalah menyusun onboarding lengkap untuk semua fungsi sekaligus. Itu tidak pernah selesai. Ambil satu potongan yang paling sering diulang: minggu pertama, lintas fungsi. Yang harus diketahui semua orang, apa pun perannya:
- Siapa kami dan bagaimana kami bekerja.
- Alat kerja: akun apa yang dibuat, kanal mana untuk apa, etiketnya.
- Kebijakan yang tidak boleh salah sejak hari pertama: cuti, kehadiran, kerahasiaan.
Modul spesifik fungsi (kasir, engineer, sales) menyusul sebagai program lanjutan. Yang penting, minggu pertama sudah tidak bergantung pada siapa yang sempat.
Materi biasanya sudah ada
Sebelum menulis apa pun, kumpulkan yang sudah dimiliki tim: dokumen kebijakan versi terbaru, daftar akun yang selalu dibuat untuk orang baru, dan satu rekaman 15 menit dari pendiri atau pimpinan yang menjelaskan cara tim bekerja. Rekaman itu lebih berharga daripada slide 40 halaman, dan lebih cepat dibuat.
Kalau ada video, transkripnya bisa dibuat otomatis, jadi isinya bisa dicari nanti saat orang lupa.
Uji pemahaman dengan situasi, bukan hafalan
Kuis “apa kepanjangan dari” tidak memberi tahu apa pun. Kuis skenario memberi tahu apakah orang baru akan bertindak benar saat situasinya datang:
Kamu menerima dokumen klien lewat email pribadi dari rekan. Apa yang kamu lakukan?
Jawabannya bukan soal ingatan, tapi soal kebijakan kerahasiaan yang baru saja dibaca. Tiga soal seperti ini cukup untuk satu modul. Kalau seseorang salah di soal yang sama berulang kali, modulnya yang perlu diperbaiki, bukan orangnya.
Yang terlihat oleh manager
Setelah dijalankan sebagai program, People Ops melihat progres tiap orang tanpa bertanya. Manager melihat tugas kecil di akhir minggu (misalnya, tiga pertanyaan yang ingin ditanyakan ke manager) sebelum sesi tanya jawab. Senior berhenti mengulang penjelasan yang sama, dan pertanyaan yang belum terjawab modul menjadi bahan perbaikan modul berikutnya.
Program lengkapnya, termasuk modul dan soal kuisnya, ada di pustaka use case. Ambil, sesuaikan kebijakannya, jalankan untuk satu orang baru dulu.